BaktiBCA: Cokelat Made In Sidoarjo Cari Celah Ekspor
Jakarta, 13 Januari 2010

Cokelat Vanssa Chocolate, salah satu produk dari 345 UMKM binaan LPB Mitra Bersama yang dibentuk tiga perusahaan besar yakni BCA, Astra International, dan Pertamina.
Anda penggemar coklat, coba perhatikan deretan cokelat di rak toko atau supermarket, hampir seluruhnya didominasi merek-merek luar negeri. Sebagian, merek-merek tersebut memiliki nama besar dengan pabrik yang juga besar dan modern. Soal rasa memang nikmat dan lezat.
Tapi dari deretan merek-merek terkenal itu ada satu cokelat buatan lokal yang memiliki rasa tak kalah nikmat dan lezat dibanding cokelat buatan luar negeri. Namanya Vanssa Chocolate, asli made in Sidoarjo, Jawa Timur. Bentuknya yang unik dengan bungkus mengkilap aneka warna dan dikemas secara apik membuat siapa saja yang melihatnya menyangka Vanssa Chocolate dibuat pabrik besar.
Nyatanya, cokelat ini hanyalah buatan industri rumahan milik Farida Ariyani di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia menekuni usaha rumahan ini sejak tahun 2000 silam, memanfaatkan bekas pabrik permen di Malang yang sebelumnya dikelola neneknya. Awalnya hanya sekedar coba-coba dan mengaktifkan kembali pabrik permen yang sempat berhenti beroperasi. “Pabrik pembuatan cokelat di Malang, sedangkan pengemasan dilakukan di Sidoarjo dan Gresik,” jelas Farida yang dibantu sekitar 17 pekerja, mayoritas merupakan ibu-ibu rumah tangga sekitar tempat tinggalnya.
Meski Vanssa Chocolate---merek yang dipatenkan sejak tahun 2007- hanyalah buatan industri rumahan, namun rasanya tak kalah lezat dibanding cokelat buatan pabrik besar. Karena itu, cokelat buatan Farida langsung mendapat respon positif dari penggemar di tanah air. Cokelat buatannya laris manis di mal-mal besar di Jakarta, Batam, Surabaya, Bali, serta kota-kota lainnya. Bahkan sudah mulai diekspor ke negara-negara di Timur Tengah.
Omzet per bulannya tergolong lumayan besar untuk indusrti rumahan, sekitar Rp 25-30 juta. Omzet itu bisa naik hingga tiga kali lipat di waktu-waktu tertentu seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, serta di hari Valentine. “Naiknya lumayan, bisa sampai Rp 70-80 juta,” ungkap Farida.
Farida merupakan figur pengusaha UMKM yang beruntung. Ia termasuk wanita yang pantang menyerah dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas produknya. Farida juga rajin mendatangi seminar-seminar atau pameran kuliner yang diselenggarakan di berbagai kota. Untuk peningkatan kualitas produk dan mendalami seluk beluk cokelat, Farida juga belajar secara khusus kepada Prof. Dr. Sri Mulato, ahli cokelat dari Balai Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember-Jawa Timur.
Selain itu, Farida juga bergabung dengan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Mitra Bersama yang didirikan oleh PT Bank Central Asia Tbk, (BCA) bersama PT Astra International Tbk, dan PT Pertamina (Persero). Dari LPB Mitra Bersama ini, Farida juga belajar bagaimana mengelola usaha dengan baik dan benar. “Banyak sekali informasi yang saya dapat dari LPB Mitra Bersama ini. Mulai dari informasi tentang pameran, pasar, hingga bagaimana mengelola usaha dengan baik dan benar,”papar Farida.
LPB Mitra Bersama sendiri diresmikan pada akhir November 2009 lalu di Waru, Sidoarjo. Dalam pelaksanaannya, ketiga perusahaan besar itu menggandeng Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) sebagai pembina yang sejak tahun 1980 dikenal telah membina dan mengembangkan UMKM di Indonesia.
Jhon Hardy Chairman LPB Mitra Bersama mengungkapkan bahwa salah satu layanan dari LBP adalah memberikan konsultasi mengenai pengembangan bisnis mereka dan sebagai fasilitator dalam mencari peluang pasar. Saat ini LPB Mitra Bersama membina lebih dari 345 pelaku UMKM di Waru, Sidoarjo.
Nah, dari aktivitas LPB yang diantaranya adalah menyerap informasi pemesanan barang dan mempertemukan buyer dengan UMKM inilah Farida mendapatkan tambahan pesanan produksi cokelat dari berbagai kota. “Ini tentu sangat membantu kami para pelaku UMKM. Dipertemukan dengan buyers dan diberi informasi tentang pasar,” tutur Farida. (Tempo)
|